Doni (semua nama yang ditulis di sini adalah fiktif) adalah seorang pemuda yang sungguh-sungguh di dalam Kristus. Begitu dia dipilih menjadi ketua pemuda, dia begitu bersemangat. Segala daya upaya dia lakukan untuk membangun komisi pemuda. Memimpin rapat, menentukan visi, misi dan target pelayanan. Setiap minggu ikut pelawatan kepada pemuda yang sudah lama tidak hadir persekutuan. Ide-idenya sungguh brilian untuk menghidupkan setiap pertemuan persekutuan pemuda. Tim pelayanan yang dimilikinya pun sangat komit dan kreatif. Mereka merancang kegiatan demi kegiatan dengan sempurna. Penyambutan melakukan tugasnya dengan baik, orang-orang menikmati datang persekutuan, tema-tema yang dirancang sangat menarik dan poster-poster selalu dirancang dengan eye catching. Event demi event berlalu, jumlah pemuda terus meningkat hingga mencatat rekor jumlah pemuda yang hadir dalam sekali persekutuan pemuda. Doni merasa berhasil membangun pemuda selama masa kepemimpinannya.
Beberapa lama kemudian, keadaan berbalik. Jumlah kehadiran pemuda di persekutuan terus turun. Pemuda yang datang itu-itu saja: Pengurus dan teman-teman pengurus. Orang-orang kelihatannya mulai bosan dengan segala acara pemuda. Para pengurus pun kelihatan exhausted (kecapean). Sekali-kali memang Doni mampu membuat suatu acara yang begitu menarik sehinga pemuda yang datang kembali meroket, namun minggu berikutnya langsung melempem. Segala usaha doni kelihatan seperti menjaring angin dan membentur tembok. Doni mulai putus asa.
Apa yang salah dengan pelayanan Doni? Bukankah semuanya sudah dilakukan dengan baik?
(more…)