Pernah nonton film Matrix? Film ini menceritakan tentang keadaan fiktif di masa depan di mana robot berkuasa di muka bumi ini, dan manusia diternakkan untuk dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik bagi robot-robot tersebut. Di film itu manusia diproduksi secara masal. Coba kita ingat-ingat bahwa ada suatu adegan yang menggambarkan peternakan bayi manusia itu, di mana bayi-bayi di simpan di dalam tabung, diberi makan oleh robot, dan dipelihara secara masal sampai mereka dewasa. Mengerikan sekali bukan? Tak ada seorang pun yang bisa membayangkan bagaimana manusia yang berharga itu dijadikan sebagai ternak dan diproduksi secara masal.
Sayangnya dalam kenyataan hidup, justru banyak gereja yang tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukan peternakan rohani. Mereka mencoba memproduksi kedewasaan rohani secara masal. Seringkali jumlah menjadi target utama yang ingin dicapai setiap kali menjalankan suatu program. Seperti proses produksi masal pada pabrik sepatu misalnya, pencapaian kuota target produksi (baca: jemaat) bahkan terkadang menjadi satu-satunya parameter keberhasilan dari suatu acara atau program.
Maka tepat sekali perkataan LeRoy Eims, seorang Wakil Pelayanan Internasional untuk Para Navigator, “Murid-murid tidak dapat dihasilkan secara masal.” Dan juga “Pelayanan itu harus dijalankan oleh orang-orang dan bukan program.”[1].
Perry G. Downs, seorang asisten profesor dalam bidang pendidikan Kristen di Trinity Evangelical Divinity School, Illinois pernah menulis, “Sasaran dari pelayanan kaum muda di dalam gereja adalah penjangkauan dan kedewasaan. Pemuridan mencakup keduanya.”[2] Pertanyaannya sekarang adalah, kalau memang pelayanan pemuridan dapat menjadi pelayanan yang menumbuhkan jemaat menjadi dewasa, pemuridan yang seperti apa yang bisa mengubahkan hidup seorang pemuda menjadi dewasa rohani? Di bawah ini penulis mencoba menjabarkan secara singkat 7 prinsip pemuridan yang mengubahkan hidup yang berasal dari berbagai sumber termasuk dari pengalaman penulis sendiri. Sekalipun prinsip-prinsip ini dapat diadopsi secara umum untuk pemuridan berbagai usia, namun secara khusus penulis memfokuskan pada pemuridan untuk kaum muda, karena pemuridan merupakan suatu fondasi dari pelayanan kaum muda yang sehat.
1. Mulai dengan sedikit orang
Pemuridan yang baik bukanlah suatu program yang dapat dijalankan secara masal. Di sini ada yang disebut dengan faktor pemilihan. Kita harus memulai dengan sedikit orang yang berkomitmen dan memang mau dimuridkan. Seperti kata Paulus kepada Timotius, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” II Timotius 2:2.
Tips lain dari faktor pemilihan ini adalah, jangan memilih lebih banyak daripada yang sanggup kita tangani.
2. Komitmen
Pemuridan memerlukan komitmen dari pemimpin dan murid. Komitmen bagi pemimpin berarti memprioritaskan jam pemuridan di atas kesibukan yang lain. Ini artinya mengorbankan waktu luang dan bahkan terkadang pelayanan lain. Waktu penulis dimuridkan, karena kesibukan kuliah, kami hanya bisa PA hari sabtu. Pemimpin kami waktu itu baru lulus dan sedang mencari pekerjaan. Dia berdoa meminta kepada Tuhan agar diberi pekerjaan yang libur pada hari Sabtu. Beberapa kali interview ternyata perusahaan tempat pemimpin kami melamar bekerja di hari Sabtu, karena itu sekalipun diterima, pemimpin kami menolak mengambil pekerjaan tersebut. Dia berkomitmen hari Sabtu adalah waktu untuk kami PA dan akhirnya Tuhan menjawab doanya dengan pekerjaan yang baik dari perusahaan yang lebih bonafide dan libur pada hari Sabtu.
Komitmen juga berarti menuntaskan pemuridan sampai selesai. Dalam siklus pemuridan di kampus, kelompok pemuridan berlangsung selama kurang lebih 2 tahun. Pernah ada seorang pemimpin kelompok pemuridan di Bandung yang walaupun sudah pindah ke kota Jakarta, tetap pulang pergi setiap weekend ke Bandung untuk melanjutkan kelompok pemuridannya yang sudah berusia 1 tahun sampai selesai di tahun kedua.
Komitmen pemimpin akan menjadi teladan yang dapat ditiru oleh para murid. Hal itu dapat menumbuhkan komitmen yang serupa di hati mereka.
3. Waktu
Pemuridan memerlukan waktu. Ia perlu kesabaran dan kesetiaan seseorang dalam memelihara dan memupuk kerohanian para murid. Tidak ada kedewasaan rohani instant. Tidak mungkin seseorang bisa mencapai kedewasaan rohani hanya dalam waktu hitungan minggu atau bulan. Memang kalau kedewasaan rohani hanya diukur dari pengetahuan Alkitab saja tentu bisa saja dalam beberapa bulan seseorang menguasainya. Namun perubahan pola pikir dan karakter yang merupakan bagian dari kedewasaan rohani memerlukan waktu. Maka dari itu, untuk pelayanan pemuridan pemuda disarankan dilakukan tidak kurang dari 2 tahun.
4. Disiplin Rohani
Pemuda perlu dididik sejak awal mengenai disiplin rohani. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (I Timotius 4:8). Disiplin rohani akan menjadi bekal yang sangat berguna bagi para pemuda saat menghadapi berbagai tantangan dan masalah saat ini ataupun saat mereka dewasa kelak. Menghapal ayat, bersaat teduh setiap pagi, dan mengerjakan tugas-tugas pemuridan adalah contoh penerapan disiplin rohani yang baik bagi para murid. Tentunya penerapan disiplin rohani ini memerlukan suatu pertanggungan jawab. Saling memeriksa catatan saat teduh atau saling memeriksa ayat hapalan merupakan alat yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
5. Pemahaman Alkitab yang Berbobot
II Timotius 3:16 berkata, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Walaupun suatu kelompok pemuridan dapat berupa kelompok Care Group atau Cell Group pada mulanya, namun karena tujuan terakhir dari kelompok ini adalah suatu kedewasaan rohani, tidaklah mungkin kedewasaan rohani dicapai tanpa melalui pemahaman Alkitab yang benar dan kokoh. Kelompok kecil yang berfokus kepada sharing pribadi memang akan memberikan keakraban dan persekutuan yang indah dalam kelompok tersebut, namun tidak memberikan suatu tanggung jawab yang membawa kepada perubahan hidup dari orang-orang yang terlibat di dalam kelompok tersebut. Selain itu, tanpa pemahaman Firman Tuhan yang benar, maka segala pengalaman rohani kita akan mudah sekali ditafsirkan secara keliru.
Firman Tuhan memang merupakan fondasi yang kokoh dari pertumbuhan iman seseorang. Maka tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa fokus dari pemuridan tetaplah merupakan pemahaman Alkitab yang berkualitas.
6. Sharing Life
Seorang yang baru bertumbuh dalam Kristus membutuhkan teladan yang baik dari orang-orang Kristen lain yang sudah dewasa. Mereka membutuhkan contoh yang dapat mereka tiru dalam menghadapi suatu keputusan atau suatu masalah. Tapi hati-hati, pemimpin perlu bijaksana dalam memilih pergumulan hidup yang dapat dibagikan kepada murid-muridnya. Hindari membuka pergumulan pribadi yang sulit untuk dimengerti atau dapat membingungkan mereka. Tentu pada saatnya, sewaktu keakraban antar peserta dan pemimpin sudah terjalin dengan baik dan sesuai dengan pertumbuhan para peserta, pergumulan-pergumulan tersebut dapat diceritakan kepada mereka.
Memfokuskan kelompok pada pemahaman Alkitab yang berbobot bukan berarti meniadakan sharing dalam aktifitas mingguan kelompok. Sharing life antar peserta dapat dilakukan dengan memegang teguh beberapa persyaratan:
· Apa yang disampaikan dalam pertemuan kelompok, tabu dibicarakan dengan orang lain di luar kelompok
· Sharing mengenai masalah yang cukup pribadi sebaiknya baru dilakukan saat tingkat komitmen dan keakraban kelompok sudah cukup terjalin.
7. Bimbingan Pribadi
Adalah penting bagi pemimpin untuk menyadari bahwa setiap pribadi yang menjadi murid adalah unik dan memilik kebutuhan yang berbeda dengan teman-teman lainnya. Karena itu dalam pemuridan dikenal istilah bimbingan pribadi. Dalam bimbingan pribadi pemimpin bertemu secara pribadi demi pribadi dengan setiap muridnya. Bimbingan pribadi dapat berupa konseling, atau tanya jawab mengenai pertanyaan-pertanyaan yang terlalu panjang dan membosankan untuk dijawab di pertemuan kelompok misalnya. Bisa juga waktu bimbingan pribadi digunakan untuk meningkatkan disiplin secara khusus bagi beberapa orang tertentu. Intinya bimbingan pribadi ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjawab kebutuhan khusus dari para murid.
Dr Neil T. Andreson pernah mengatakan bahwa pelayanan konseling dan pemuridan merupakan pelayanan yang terkadang sulit dipisahkan.[3] Maka perlulah setiap pemimpin kelompok pemuridan diperlengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan konseling Kristen yang baik. Pemimpin perlu terlibat dengan kehidupan para murid, dia harus peka dan siap sedia mengulurkan tangan dalam membantu permasalahan yang dihadapi oleh muridnya. Terlebih lagi para pemuda yang dalam posisi kritis menentukan masa depannya, banyak sekali masalah yang perlu dibantu oleh orang yang lebih dewasa dari dirinya.
Akhir kata, setelah 10 tahun terlibat dalam pelayanan pemuridan, penulis telah melihat orang-orang yang mengalami perubahan dalam hidup mereka. Pemuda yang minder menjadi seorang pemimpin yang baik. Ada troublemaker yang berubah menjadi seorang yang antusias belajar Firman Tuhan. Seorang adik terkesan dengan perubahan tingkah laku kakaknya setelah ikut pemuridan. Seorang tidak bisa mengerti Firman Tuhan menjadi seorang yang memahami Firman Tuhan. Ada yang hidup dengan cuek mulai membenahi diri. Semuanya karena ada orang yang bersedia berkomitmen memberi waktu, tenaga dan hidupnya untuk hidup murid-muridnya.
January 17, 2009 at 9:05 am
Halo bang deny, sy senang membaca tulisannya tentang pemuridan. Bs nambah pengetahuan sy dlm menjalankan pemuridan di kampus sy. Trima kasih.
April 24, 2009 at 6:50 pm
makasih ya untuk tulisannya. saya minta ijin untuk dijadikan bahan share di pelayanan saya di medan. karena topiknya minggu ini tentang pemuridan. shalom
April 24, 2009 at 10:53 pm
Terima kasih kembali untuk commentnya. tentu saja boleh. senang bisa membantu. GBU
May 5, 2009 at 1:55 pm
thnx ats tulisannya, jdi dpt inspirasi baru buat karya tulis.
July 13, 2009 at 4:26 pm
thanks….. saya senag.membaca tulisan anda..
n saya harap dikembangkan lagi…
karena kita tahu bahwa kaum muda adalah next generation…. yang harus dimbimbing untuk mengenal Tuhan lebih Lagi..
^_^GBU