Ini bukan ide kreatif yang saya ciptakan sendiri. Tapi saya dapat dari seorang teman di GKI Anugerah di Bandung, menurutnya dia pun mendapatkan ide acara ini dari temannya di gereja lain. Acara ini sangat berkesan bagi kami dan memberikan dampak yang cukup positif dalam persekutuan pemuda, sehingga kami mengulangnya setiap tahun selama beberapa tahun.

Idenya besarnya sih begini:

Kita membuat 2 acara khusus:

1. Ladies Night

2. Gentlemen’s Night

Saat acara Ladies Night, semua pelayan mulai dari user, AV, music, MC, singer sampai pembicara semuanya pria. Wanita dilayani. Sedangkan saat Gentlemen’s Night, semua pelayan adalah wanita, pria dilayani.

Kalau hanya begini, tentunya akan terasa garink dan terlalu simple. Nah, supaya lebih menarik, setiap gender bisa berlomba-lomba dalam memberikan pelayanan yang kreatif dan terbaik untuk lawan jenisnya.  Misalnya perluas pelayanan di persekutuan ini dengan menambahkan pelayanan dekorasi, penjemputan, konsumsi yang unik. Misalnya apabila gereja Anda cukup luas, dari gerbang para pria bisa menggunakan becak untuk mengantarkan ke pintu masuk gereja. Konsumsi dibuat sendiri (tidak beli) misalnya. Kemudian setiap group gender bisa menentukan dress code untuk para pelayan dan untuk lawan jenisnya.

Acara ini cocok untuk acara Valentine, di mana Firman Tuhan juga mengenai pria dan wanita.

Hal-hal positif yang bisa kita peroleh dari acara ini:

  1. Dengan memisahkan pelayanan pria dan wanita, maka orang-orang yang biasanya tidak terlibat pelayanan bisa dilibatkan. Biasanya mereka tertarik dengan mengeluarkan ide2 kreatif mereka untuk melayani lawan jenisnya.
  2. Para wanita bisa melihat lawan jenisnya beraksi dalam pelayanan, demikian juga para pria.
  3. Para pria belajar bersikap gentleman pada wanita, para wanita belajar melayani para pria.

Berikut ini yang pernah kami lakukan pada Ladies Night:

  • Para pria mengadakan Romantic Gala dinner untuk acara Ladies Night.
  • Semua pria menggunakan dasi. Para pria sepakat untuk membawa dasi-dasi cadangan mereka untuk dipinjamkan pada teman-teman yang tidak tahu ada acara itu. Dress code untuk pria adalah: waiter.
  • Acara ini kami buat di tempat parkir mobil (tertutup di dalam gereja), sehingga ada dekor mobil beneran dan dibantu oleh LCD proyektor.
  • Kami menyediakan meja-meja dengan lilin-lilin romantisnya.
  • Kebetulan teman kami kuliah di enhai sehingga makanan semua kami buat sendiri. Konsumsi juga tidak perlu mewah, karena terbatasnya budget, maka teman kami membuatkan pisang goreng ala hotel. Sederhana namun mengesankan.
  • Para pria yang memiliki motor standby di depan gerbang gereja untuk mengantarkan para wanita dari gerbang ke dalam gereja (kebetulan juga agak jauh).
  • Setelah puji-pujian dan Firman Tuhan, acara dilanjutkan dengan gala dinner, di mana seorang teman kami memberikan sinyal agar semua pria keluar dari tempat duduknya masing-masing (kami atur agar bisa duduk sepasang-sepasang) dan kemudian para pria mengambilkan makanan untuk para wanita yang menjadi pasangan kami malam itu.

Yang para wanita lakukan pada Gentlemen’s Night:

  • Para wanita juga mengadakan romantic dinner untuk para pria tetapi lebih private berdua-dua (bukan gala dinner)
  • Tema dekor yang digunakan: Back to nature
  • Dress code untuk wanita: gadis Bali
  • Konsumsi juga dibuat oleh para wanita.
  • Seperti pada Ladies Night, para wanitalah yang mengambilkan makanan untuk para pria yang menjadi pasangannya.
  • Penyambutan adalah para gadis Bali dengan pengalungan untaian bunga.