Beberapa waktu yang lalu ketika saya memimpin workshop menjadi seorang pemimpin Kelompok Kecil di gereja saya, seorang bertanya, “Apakah berkelompok kecil harus sejenis kelamin, ataukah boleh campur?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menyampaikan terlebih dahulu beberapa pertimbangan berikut ini:
1. Kelompok kecil yang tidak sejenis baik bagi kaum muda karena mendorong persahabatan yang sehat dengan lawan jenis yang seringkali dapat membawa kepada jenjang pacaran. Tentunya hal ini sangat positif mengingat banyak orang mencari pasangan hidup di tempat yang tidak tepat.
2. Kelompok kecil berbeda jenis juga mempunyai nilai positif di mana perbedaan yang dimiliki antara pria dan wanita memberikan masukan-masukan yang lebih kaya dalam diskusi dan sharing kepada setiap anggota kelompok.
3. Sebaliknya, kelompok kecil yang sejenis relatif lebih mudah membuka diri. Terutama bagi kaum pria. Seringkali pria tidak dapat membuka diri saat sekelompok dengan wanita. Pria memang tidak biasa mengungkapkan kelemahan dirinya di hadapan lawan jenisnya.
4. Dalam pertumbuhan kelompok kecil yang sehat, akan terjadi banyak sharing dan curhat. Maka bagi kelompok yang tidak sejenis yang memiliki anggota yang telah memiliki kekasih (atau bahkan suami/istri) mempunyai resiko perselingkuhan emosi. Bahkan seringkali hubungan dengan sesama anggota kelompok lebih dekat dan lebih akrab dibanding dengan pasangannya, apabila sang pasangan tidak ikut dalam kelompok yang sama. Ini juga berpotensi menciptakan masalah antara kedua sejoli tersebut.
5. Karena keakraban yang cukup intens antar anggota kelompok kecil yang tidak sejenis, kadang kala menimbulkan masalah juga bagi para single di kelompok tersebut. Kadang para jomblonya sulit mendapatkan pasangan di luar kelompok akibat ekslusifitas dari kelompok tersebut.
6. Pernah dilaporkan adanya kejadian seorang pemimpin kelompok kecil yang pria menghamili anak bimbingannya yang wanita. Hal ini menimbulkan kekuatiran bagi kelompok-kelompok yang beda jenis.
Walaupun dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, bukan berarti kita tidak boleh memiliki kelompok yang berlainan jenis, melainkan ada rambu-rambu yang perlu dibuat agar kelompok kecil yang berlainan jenis tetap dapat berlangsung dengan efektif. Antara lain:
1. Bagi anggota kelompok kecil berlainan jenis yang telah menjalin hubungan atau telah menikah, ada baiknya pasangannya termasuk dalam kelompok tersebut. Ini dapat menjaga agar perselingkuhan emosi tidak terjadi.
2. Bagi sebagian orang, sekelompok dengan pasangannya tidak menyenangkan karena kadangkala pertengkaran dengan pasangan jadi terbawa ke kelompok, atau sebaliknya yaitu kondisi rumah tangga tidak pernah dapat dibagikan dalam kelompok. Hal ini dapat diatasi dengan memisahkan pria dengan wanita saat sharing pribadi. Dengan cara ini, masalah perselingkuhan emosi juga dapat diatasi. Demikian pula dengan masalah kesulitan untuk terbuka bagi kaum pria.
3. Ekslusifitas dalam kelompok kecil memang diperlukan untuk membentuk rasa memiliki kelompok dan untuk menciptakan hubungan yang lebih mendalam antar anggota kelompok, namun hendaknya ekslusifitas tidak terjadi dalam seluruh bidang kehidupan anggota. Persahabatan perlu juga terjadi dengan orang-orang di luar kelompok kecil. Misalnya dengan teman kuliah atau dengan teman kerja yang lain.
4. Kasus no 6 di atas adalah kasus khusus yang terjadi karena gereja mengijinkan seseorang menjadi pemimpin kelompok tanpa adanya kriteria-kriteria tertentu. Untuk menjamin hal serupa tidak terjadi, seorang pemimpin kelompok kecil (baik kelompok yang sejenis maupun beda jenis) haruslah dikenal oleh gembala/majelis gereja. Dia haruslah seorang yang dewasa rohani, berintegritas dan memiliki kepribadian yang baik.
Dengan menerapkan rambu-rambu tersebut, kita tidak perlu kuatir lagi untuk membentuk kelompok yang berlainan jenis kelamin.