Dalam buku Purpose Driven Youth Ministry, Doug Fields mengatakan bahwa pemuridan yang baik harusnya terdiri dari hal-hal dengan rumusan 33,3 persen pengajaran, 33,3 persen disiplin/kebiasaan rohani yang baik, dan 33,3 persen relasi.

Menurut saya ini merupakan rumusan yang sangat tepat. Namun sebagai tambahan 33,3 persen yang kedua yaitu disiplin dapat juga berupa aplikasi atau proyek ketaatan. Sehingga rumusannya menjadi sbb:

  • 33,3 persen pengajaran
  • 33,3 persen disiplin/aplikasi
  • 33,3 persen relasi

33,3 persen pengajaran, berarti pertemuan-pertemuan kelompok kecil haruslah berisi diskusi, atau pengajaran yang berbasiskan Alkitab. Seringkali dalam pertemuan kelompok kecil, yang dibahas adalah suatu topik praktis tertentu. Memang ini bukannya tidak berguna, namun apabila tidak ada dasar Firman Tuhan yang kokoh, mudah sekali pengajaran praktis ini berakhir menyimpang. Selain itu, dalam pemuridan yang penting adalah bagaimana membekali para peserta untuk:

1. mencari dan mengolah makanan rohani sendiri

2. menilai suatu ajaran benar atau salah

3. mengambil keputusan atau menentukan sikap yang sesuai dengan Firman Tuhan.

33,3 persen disiplin/aplikasi. Pengajaran tanpa aplikasi akan menciptakan Farisi-Farisi baru. Maka penting sekali setiap pertemuan selain diisi oleh pembahasan Firman Tuhan, tapi juga diakhiri dengan aplikasi atau proyek ketaatan yang perlu periksa pelaksanaannya oleh pemimpin kelompok kecil. Sejalan dengan proyek ketaatan tersebut, disiplin rohani merupakan hal yang pokok yang harus dikembangkan dalam pertemuan-pertemuan pemuridan. Disiplin rohani bisa berupa menghapalkan ayat, mengerjakan tugas, menulis jurnal saat teduh, dan juga termasuk mengerjakan aplikasi/proyek ketaatan.

33,3 persen relasi. Tak ayal lagi, relasi sangat penting dalam kelompok kecil. Relasi adalah perekat kelompok sekaligus bahan bakar yang menunjang kelangsungan suatu kelompok kecil. Namun relasi yang diperlukan bukanlah relasi pertemanan biasa. Namun haruslah merupakan relasi antar pribadi yang akrab dan mendalam. Di mana setiap peserta kelompok bisa saling berbagi perasaan, pergumulan dan termasuk kegagalannya dalam menjalankan Firman Tuhan. Relasi yang dibentuk harus dapat menjadikan kelompok kecil ini sebagai tempat akuntabilitas dari setiap anggotanya. Hal ini dapat dibentuk melalui sharing yang mendalam, kerelaan untuk membuka dan juga ketersediaan untuk ditegur dan ditolong oleh anggota yang lain. Untuk dapat mencapai suatu tingkat relasi seperti ini, tentu diperlukan waktu dan kegiatan kebersamaan yang cukup sehingga setiap orang dapat mengenal satu dengan yang lain.

Ketiga hal tersebut memang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Relasi tanpa pengajaran dan disiplin akan menjadikan kelompok kecil suatu pertemuan pertemanan biasa yang kurang memiliki faedah rohani. Pengajaran tanpa disiplin dan relasi akan menjadikan kelompok kecil sebagai kelas teologi biasa yang tidak memiliki kekuatan untuk memaksa pribadi untuk melakukan Firman Tuhan. Dan disiplin tanpa pengajaran dan relasi akan membuat kelompok kecil ini kehilangan rohnya sehingga pada akhirnya akan membunuh kelompok kecil tersebut.

Advertisement